UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR (UIM)

AG. H. MUHAMMAD AS’AD AL-BUGISI DAN KARYA TULISNYA

Oleh: M. Nasir Baharuddin  (UIM Makassar)

Sejak zaman Rasulullah SAW, aktivitas menulis sudah menjadi tradisi para sahabat Rasulullah SAW. Teologi surah al-‘Alaq membakar semangat mereka untuk memainkan al-Qalam (pena) sebagai channel langit dari Tuhan untuk mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui.

Para sahabat beliau mengambil peran dakwah yang tidak kecil. Di antara mereka yang banyak dikenal sebagai penulis wahyu seperti Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, ‘Abban bin Sa’id, Abu Umamah Al-Bahili, Abu Ayyub Al-Anshari, Abu Salamah, Ubay bin Ka’ab, Al-Arqam bin Abi al-Arqam, Usaid bin Hudhair, Tsabbit bin Qays, Ja’far bin Abi Thalib, Jahm bin Sa’ad, Hathib bin Abi Baltha’ah, Hudzaifah Ibn al-Yaman, Hanzhalah, Khalid bin Sa’id, Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabbit, Sa’ad Ibnu Rabi’, Sa’ad bin Ubadah, Syurahbil bin Hasna, Amir bin Fuhaira’, Abdullah bin Rawahah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Amr bin Ash, Muhammad bin Maslamah, Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, dan lain-lain.

Hingga masa Khulafa al-Rasyidin, tabi’in, tabi’ al-tabi’in dan seterusnya, para sahabat dan Ulama salaf dan khalaf melakukan aktivitas menulis. Sehingga banyak melahirkan kitab dan karya monumental.

Tentu dari itu, Ulama dan kitab, dua hal yang tak dapat dipisahkan. Namun, Ulama dan menulis, adalah hal yang boleh jadi terpisah. Ada Ulama yang piawai mengarang, dan ada yang tidak. Artinya, keulamaan seseorang bukan jaminan ia bisa menelurkan karya tulis.

Ulama-ulama klasik banyak menelurkan buku atau kitab. Sebut saja Kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik, Al-Umm karya Imam Syafi’i dan Ihya’ Ulumiddin karya Imam Abu Hamid al-Gazali.

Imam Nawawi, Imam Al-Suyuthi, Ibnu Sina, Ibnu Arabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Malik dan masih banyak lagi adalah para Ulama yang mengisi hari-harinya untuk melahirkan karya tulis. Bayangkan saja, dalam kitab al-Tahadduts bi al ni’mah karya Imam al-Suyuthi, Ulama yang menulis tafsir Jalalain bersama Jalaluddin al-Mahalli ini menuliskan prestasi-prestasi yang telah diraihnya dalam bidang keilmuan dan memuji tulisan-tulisannya yang mencapai 600 judul kitab. Demikian pula dengan Imam Nawawi dan al-Ghazali yang mencapai 400 judul kitab dan Imam al-Nawawi mencapai 40 kitab yang monumental. Misalnya karya Imam al-Nawawi yang cukup terkenal, Syarh Shahih Muslim yang mencapai 18 jilid dan al-Majmu Syarh al-Muhazdzab  mencapai 32 jilid.

Kebiasaan menulis Ulama dulu, pun dilakukan oleh salah seorang ulama besar asal tanah Bugis, Sengkang, Sulawesi Selatan, AG Haji Muhammad As’ad. Meski belum banyak yang mengetahui, AG. Haji Muhammad As’ad telah mengarang puluhan buah karya. Karya beliau yang telah dideteksi mencapai 24 buah karya. Keterangan ini dapat dilihat dari beberapa buku sejarah dan penelitian tentang beliau. Adapun karya tulis beliau adalah:

  1. Mahya’ al-Taisir fi ‘ilm al-Tafsir
  2. Izhar al-Haqiqah
  3. Kitab al-Aqa’id
  4. Al-Nukhbah al-Buqisiyah fi al-Sirah al-Nabawiyah
  5. Kitab al-Zakah
  6. Al-Kawakib al-Munir
  7. Nayl al-Ma’mul ‘ala Nuzum Sullam al-Usul
  8. Tuhfah al-Faqir
  9. Irsyad al-’Ammah
  10. Al-Burhan al-Jaliyyah fi Wujub Kawn Khutbah al-Jumu’ah ‘Arabiyyah
  11. Al-Ajwibah al-Mardiyyah
  12. Tafsir Surah al-Naba’
  13. Nibras al-Nasik
  14. Sabil al-Sawab
  15. Majallah al-Mau’izah al-Hasanah
  16. Mursyid al-Sawwam ila Ba’d Ahkam al-Siyam
  17. Al-Qawl al-Maqbul fi Sihhah al-Istidlal ‘ala Wujub Ittiba’ Al-Salaf fi Khutbah ‘ala Nahw Al-Mansu
  18. Al-Qawl al-Haqq
  19. Al-Ibanah al-Buqisiyyah ‘an Sullam al-Diyanah al-Islamiyyah bi al-’Arabiyyah wa al-Buqisiyyah
  20. Hajah al-’Aql ila al-Din
  21. Wasiyyah Qayyimah fi al-Haqq
  22. Al-Akhlaq li al-Madaris al-Ibtidaiyyah
  23. Al-Barahain
  24. Al-Qabul al-Maqbul.

Karya-karya beliau di atas menggambarkan sisi kemapanan intelektual beliau. Boleh jadi masih ada karya beliau yang belum ditemukan oleh murid-muridnya.

Kemapanan intelektual beliau dapat dilacak dari bukunya, al-Ajwibah al-Mardiyyah, beliau mengutip puluhan Ulama dan mengupas pendapat-pendapatnya dan mematahkan pendapat Ulama-ulama yang tidak mewajibkan bahasa arab dalam khutbah Jumat. Kemapanan beliau dalam memberi kesan pustaka dalam berbagai ulasannya, patut dijadikan rujukan dalam berpendapat di tengah banyaknya orang yang berpendapat tanpa pernah membaca banyak kitab.

Salah satu karya beliau yang membuktikan bahwa beliau adalah Mufassir adalah Tafsir Surah al-Naba’ Adapun karya beliau tentang Ushul Tafsir termuat dalam kitab al-Kaukab al-Munir yang member isyarat bahwa beliau sangat menguasai metodologi tafsir. Beliau juga seorang penulis Syair yang ulung, Penguasaan terhadap ilmu ‘Arudh sangat luar biasa. Beberapa karya beliau ditulis dalam bentuk syair (nadzm), yaitu penulis yang memahami kebutuhan masyarakat yang menginginkan bacaan singkat dan padat.

Beliau menulis banyak bukunya dalam bahasa bugis dan menggunakan huruf lontara bugis dalam bahasa sederhana. Hal-ini memberikan isyarat bahwa beliau ingin masyarakat wajib memahami ilmu sesuai kebutuhan mereka (simple language). Bahasa bugis adalah bahasa yang banyak digunakan oleh masyarakat Sengkang kala itu. Berbeda dengan banyak buku-buku sekarang, semakin dibaca semakin memusingkan, dan semakin multi tafsir.

Salah satu karya beliau yang dijadikan rujukan adalah Mahya’ al-Taisir fi ‘ilm al-Tafsir. Kitab ini dikutip oleh KH. Bisri Musthafa, Ulama asal Rembang, Jawa Tengah tatkala menulis kitab al-Iksir fi Tarjamah ‘Ilm al-Tafsir. Kitab ini berisi kajian kaidah-kaidah ilmu tafsir al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa Jawa aksara Arab atau Pegon. Karya ini sekaligus merupakan terjemahan dan penjelasan berbahasa Jawa atas Manzhumah al-Tafsir  karangan Syaikh ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Ali al-Zamzami al-Makki (w. 963 H/ 1556 M).

Dalam muqaddimahnya, KH. Bisri Musthafa menyinggung jika ia menuliskan karya al-Iksir ini setelah beliau merampungkan karya sebelumnya, yaitu al-Awzad al-Musthafawiyyah fi Tarjamah al-Manzhumah al-Baiquniyyah dalam bidang kajian kaidah-kaidah ilmu musthalah hadits. KH. Bisri Musthafa menulis: “…Setelah menerjemah Manzhumah al-Baiquni dapat diselesaikan, saya hendak menyuguhkan kepada para mitra yang juga memerlukan, itung-itung sebagai gandengan terjemah tersebut, yaitu saya suguhkan terjemah Nazham al-Tafsir karangan Syaikh al-Zamzai yang wafat tahun 963)…”

Zainul Milal Bizawie, salah satu peneliti Ulama Nusantara menyampaikan bahwa terdapat informasi menarik lainnya yang disampaikan oleh KH. Bisri Musthafa terkait salah satu rujukan yang beliau gunakan dalam al-Iksir, yaitu kitab Mahya’ al-Taisir fi ‘Ilm al-Tafsir karangan seorang ulama Nusantara yang lama bermukim di Makkah, yaitu Muhammad As’ad (w. 1952). AG Haji Muhammad As’ad terhitung sebagai salah satu kunci utama jaringan intelektual ulama Sulawesi-Nusantara-Timur Tengah di awal abad ke-20 yang juga pendiri dari As’adiyah, salah satu organisasi keislaman berhaluan Aswajah di Sulawesi, juga pendiri Pesantren As’adiyah yang terletak di Wajo, Sulawesi Selatan. Artinya, para Ulama Nusantara juga saling mengakui dan mengambil banyak manfaat dari karya-karya Ulama pendahulu atau sezaman dengan mereka.

Laiknya banyak Ulama-ulama di pulau Jawa dan Sumatra yang direpublikasikan buku-buku atau karya-karyanya, penulis mengharap ada tangan-tangan brilliant yang mampu menulis ulang karya beliau dan karya Ulama Bugis lainnya dalam versi terjemahan bahasa Bugis dan Indonesia untuk kepentingan edukasi dan wacana Islam. Hal ini telah dilakukan oleh beberapa peneliti, termasuk pemerhati karya tulis Ulama Bugis seperti Prof. Kadir Ahmad, Prof. Ahmad Rahman, AG. Dr. Muhyiddin Tahir, Dr. Firdaus Muhammad, KM. Musdawi dan masih banyak lagi, dan agar tidak terjadi kepunahan warisan monumental khazanah pesantren Bugis. Tulisan ini diharap menjadi catatan ringan untuk para santri dan calon Ulama untuk mempersiapkan diri dengan berkarya sebagai uswah dari para pendahulu agar pengetahuan dan karya mereka bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Translate »